Ular Tembaga

01
Mar

Ular Tembaga

Pdt. Anggung

“ Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”
Bilangan 20:9

Bila ada orang masih bersungut-sungut padahal kita sudah memberikan sesuatu yang baik dan cukup buatnya, apa yang kita pikirkan tentang orang ini? Mungkin spontan kita mengatakan, ini orang tidak tahu bersyukur. Ya tidak tahu bersyukur adalah gambaran hidup orang Israel di masa kepemimpinan Musa. Pehatikan Bil 21:5, bagaimana sungut-sungutan bangsa Israel kepada Allah yang disampaikan mereka kepada Musa.

Apakah benar bahwa Allah memimpin umat Israel keluar dari Mesir hanya untuk membuat mereka menderita dan binasa? ITU TIDAK BENAR!!! Justru peristiwa itu menyatakan kasih Allah yang besar. Bagaimana wujud kasih Allah yang besar itu: Pertama, Allah membawa dan membebaskan mereka dari perbudakan bangsa Mesir yang sudah mereka alami kurang lebih 400 tahun (Kel 2:23; 13:14; 20:2). Kedua, Allah menurunkan dari langit hujan roti ketika mereka minta roti (manna) (Kel 16:4), dan 40 tahun mereka memakan manna itu (Kel 16:35), burung puyuh ketika mereka meminta daging (Kel 16:13). Untuk kebutuhan air, Allah mengubah air pahit jadi manis (Kel 15:23-25). Dan Allah dua kali mengelurkan air dari gunung batu (Kel 17:6; Bil 20:11). Ketiga, selama kurang lebih 40 tahun hidup di padang gurun, Allah melindungi mereka dari serangan ular tedung. Baru sungut-sungutan kali ini (Bil 21:6), Allah baru menyuruh ular tedung keluar memagut mereka, sebagai bentuk hukuman atas kejahatan mereka. Keempat, puncak kasih Allah dinyatakan melalui perintah kepada Musa untuk membuat ular tembaga dan ditaruh pada sebuah tiang, setiap orang dipagut ular tedung dan memandang pada ular tembaga itu, ia tetap hidup (Bil 21:9). Memadang ular tembaga adalah cara yang paling mudah, murah dan cepat untuk mendapatkan pertolongan saat keadaan kritis pada waktu itu. 

Peristiwa di atas memberi kita pelajaran penting, betapa Allah mengasihi kita. Puncak kasih Allah ialah dengan meninggikan – menyalibkan – Kristus  di atas kayu salib. Dengan cara itu, kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan manusia yang percaya memperoleh hidup kekal (Yoh 3:14-15). Sama ketika umat Israel memandang ular tembaga yang ditinggikan itu dan mereka tetap hidup. Demikian halnya dengan kita, tinggal memandang dengan mata iman – percaya pada karya Kristus – pada salib Kristus kita memperoleh hidup kekal. Ayo, jangan isi hidup ini dengan sungut-sungut,  melainkan hiduplah dengan ucapan syukur. Ingat yang paling penting telah Yesus berikan buat kita yakni hidup-Nya, untuk apa bersungut-sungut untuk hal-hal jasmaniah yang akhirnya membawa kita ke dalam dosa. Amin 

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” Yoh 3:14-15

Leave a Comment