Setia Sampai Mati

02
Oct

Setia Sampai Mati

“Ayo, kamu harus setia….jika perlu sampai mati”, ungkap seorang kapten tentara kepada para prajuritnya. Pertanyaan yang seringkali mucul adalah mengapa saya perlu setia sampai mati? Kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes sekitar tahun 96 M, di akhir pemerintahan kaisar Domitianus, yang memerintah atas kekaisaran Romawi sejak tahun 81-96 M. Pada tahun 88M, Domitianus menuntut agar dirinya disembah sebagai Tuhan dan Dewa. Akibat dari permintaannya ini ialah siapa yang menentang dan tidak menyembahnya sebagai Tuhan dan Dewa akan dihukum. Dalam tekanan ini, kitab Wahyu ini mulanya ditujukan kepada jemaat-jemaat yang berada di Asia kecil dan secara khusus kepada jemaat di Smirna (Wahyu 2:8-11) sebagai bentuk penghiburan dan penguatan bagi jemaat yang sedang dilanda penganiayaan yang bisa lebih berat lagi.

Nyata sekali bahwa jemaat di Smirrna mengalami pergumulan iman yang hebat, karena diakibatkan oleh berbagai hal yaitu: kesusahan, kemiskinan/kemelaratan total, mendapat fitnah/hujat dari orang Yahudi sehingga membuat reputasi mereka jatuh di mata pihak Romawi dan akibatnya mereka mendapatkan ancaman hukuman penjara Meskipun jemaat mengalami kesusahan, kesengsaraan yang sangat berat dan bahkan kemiskinan secara total, tetapi mereka kaya. Mereka mempunyai kekayaan yang tak dapat diberikan dunia, bukan dalam benda-benda materi melainkan dalam bentuk kasih Allah. Mereka miskin secara jasmani, tetapi kaya secara rohani.

Apa yang dialami oleh jemaat di Smirna, masih terjadi di jaman ini. Karena itu dalam berbagai penderitaan dan persoalan hidup, kita diajak untuk tetap setia, semakin tegar dan tabah dalam menghadapi segala sesuatu yang datang menerpa. Karena pengharapan di dalam Kristus yang telah menderita, mati dan bangkit serta naik ke surga, adalah alasan kita melewati derasnya arus penderitaan atau bahkan jika sampai kehilangan nyawa.

Kemenangan Kristus adalah kunci kemenangan kita atas segala hal.