Yesus Mau menolong

15
Oct

Yesus Mau menolong

“Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “ Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya” (Matius 8:2-3)

Menolong sesama merupakan perbuatan yang mulia. Namun terkadang banyak hal yang membatasi, sehingga perbuatan mulia itu tidak dapat dilakukan. Kita mau menolong orang yang dianiaya, tapi kita tidak punya tenaga sebesar si penganiaya. Kita mau menolong yang terhukum, tapi kita bukan penguasa. Kita mau menyembuhkan yang sakit, tapi kita bukan tabib-dokter atau si pembuat mujizat. Ada kasus khusus, yang mau di tolong terkendala adat, aturan agama atau tradisi agama sehingga ia tidak bisa di tolong. Dan tidak jarang orang yang memang tidak mau menolong, memakai alasan ini untuk menolak menolong. Itulah yang terjadi dengan orang yang mengidap penyakit kusta yang ada dalam kisah Matius 8:1-4. Kusta dianggap sebagai penyakit yang menajiskan dan orang yang kena penyakit kusta diangap sebagai orang yang dikutuk Allah. Jangankan menolong, berkumpul dengan orang kusta saja enggan, karena takut menjadi najis. Itulah sebabnya si kusta dikucilkan masyarakat, ia ditolak oleh pemimpin agama, sehingga harapan untuk mendapat pertolongan sangatlah mustahil.

Ketika orang kusta ini melihat Yesus diantara kerumunan orang banyak (ayat 1), ia memberanikan diri untuk hadir di sana. Ia tidak peduli apa kata orang banyak. Apa yang akan dilakukan orang banyak dan apa reaksi murid-murid Yesus. Dalam pikiran si kusta, ini kesempatan untuk mendapatkan pertolongan. Ia menerobos kumpulan orang banyak dan ia sujud menyembah Yesus (ayat 2). Dan satu ucapan iman yang kuat dari si kusta, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menahirkan aku.” Secara sederhana, si kusta ingin mengatakan, “jika Tuhan berkendak, semua mungkin bagi Tuhan.” Yang indah dan menarik adalah Tuhan Yesus menjamah si kusta dan menjawab dengan senang, bahwa Yesus mau mentahirkannya. Dan Yesus memerintahkan si kusta untuk memperlihatkan dirinya kepada imam – tujuan mendapat pengesahan/pengakuan – sehingga ia bisa diterima kembali di masyarakat. Yesus melakukan tiga hal penting sebagai respons iman si kusta, yakni pulih secara fisik, kustanya sembuh. Pulih mental, ia bisa kembali ke tengah masyarakat. Dan pulih secara rohani, ia boleh melakukan ritual keagamaan – salah satunya mempersembahkan persembahan – menurut hukum Musa (ayat 4).

Apa yang bisa kita pelajari dari dari peristiwa sembuhnya orang kusta ini: Yesus adalah pribadi yang penuh kuasa dan berbelas kasihan pada orang yang menderita. Yesus tidak pernah mengabaikan iman dari orang yang berseru kepada-Nya. Yesus tidak pernah mengabaikan setiap seruan yang diucapkankan dengan sungguh-sungguh. Yesus sempurna dalam melakukan pemulihan: fisik, mental dan rohani. Yesus mau kita berseru kepada-Nya dalam segala keadaan kita, dan percaya dengan sungguh – beriman – bahwa Dia sanggup memulihkan kita. Yesus mau kita menolong sesama kita dan lintas agama ~ Soli Deo Gloria ~

“Jangan pakai alasan aturan agama sehingga kita menolak menolong, tapi pakailah alasan kemanusiaan untuk kita mau menolong”