Pertobatan Sejati

13
Oct

“Pertobatan Sejati”
Matius 3:7-12 (TB)

Suatu hari, Yohanes Pembaptis – Sang Pembuka Jalan bagi Kristus – sedang berkhotbah dengan penuh kuasa kepada banyak orang. Mendengar khotbah Yohanes Pembaptis, penduduk dari Yerusalem, Yudea dan dari seluruh daerah di sekitar Yordan mengalami pertobatan. Mereka mengakui keberdosaannya, bertobat dan berbondong-bondong memberi diri untuk dibaptis.

Yohanes tentu sangat bersyukur dan bersorak memuji Allah melihat begitu banyak pertobatan yang terjadi. Saya membayangkan, sambil membaptiskan orang banyak itu, ia menaikkan puji-pujiannya kepada Allah. Sekalipun lelah, hatinya bersorak – sorai melihat orang-orang berbalik dan menyerahkan hidupnya bagi Tuhan.

Tetapi semua berubah tatkala Yohanes Pembaptis melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk turut dibaptis. Hati yang semula penuh sukacita itu kini berubah menjadi hati yang awas. Ia bahkan dengan tegas dan tanpa keraguan, berseru memperingatkan orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki ini:

“Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?
Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.
Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” – Matius 3:7-12

Orang Farisi dan Saduki, merupakan dua kelompok pemimpin dalam masyarakat Yahudi. Secara jumlah, orang Farisi lebih banyak dan populer dalam masyarakat Yahudi. Mereka dianggap sebagai orang-orang saleh yang terhormat, sangat ketat melaksanakan hukum Taurat dan tradisi-tradisi Yahudi. Karena itu, akhirnya mereka terjebak dalam legalisme, formalitas agama, dan kemunafikan.

Berbeda dengan orang Farisi, orang Saduki lebih terbuka (liberal) dalam menjalankan tradisi Yahudi. Mereka hanya percaya pada lima kitab Musa saja dan menolak konsep agama tentang kebangkitan, penghakiman terakhir, roh dan malaikat. Soal gaya hidup, orang Saduki lebih duniawi, bergaya hidup mewah, dan mengejar kekuasaan. Mereka termasuk kalangan yang dihormati dalam masyarakat Yahudi karena jabatan dan kekuasaan mereka.

Yohanes Pembaptis menyebut kedua kelompok ini dengan sebutan “keturunan ular beludak” (7). Orang-orang munafik ini rupanya memiliki pemahaman yang menyesatkan tentang keselamatan dari Allah. Mereka juga telah meracuni pikiran orang Yahudi dengan keyakinan bahwa mereka dapat lolos dari murka Allah sebab mereka keturunan Abraham yang dilindungi oleh sistem dan aktivitas keagamaan yang mereka jalani (Ay. A7, 9). Karena itu, Yohanes Pembaptis mengecam dan menegur mereka agar mengecek hati dan segera bertobat serta berjuang menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatannya (Ay. 8).

Berkaca dari kehidupan orang Farisi dan Saduki ini, sungguh kita perlu sangat mawas diri. Sebagai orang-orang percaya, kita pun dituntut Allah untuk mengalami pertobatan yang sejati, yaitu pertobatan radikal dengan meninggalkan cara hidup kita yang lama dan senantiasa berjuang untuk semakin serupa Kristus serta menghasilkan buah yang sejalan dengan pertobatan kita.

Tanpa pertobatan yang sejati di hadapan Tuhan, kita tidak ada bedanya dengan mereka yang disebut munafik dan keturunan ular beludak, yang pada akhirnya akan dicampakkan ke dalam api yang tak terpadamkan.

Kiranya Tuhan senantiasa menolong dan memampukan kita menjadi petobat-petobat yang menghasilkan buah dan memuliakan nama-Nya, amin.