BAHAGIA BISA BERSYUKUR

18
Aug

BAHAGIA BISA BERSYUKUR (B3)
1 Tesalonika 5:18

Bapak Ibu Saudara (BIS), seorang nenek sedang tersenyum, memperhatikan cucunya bermain istana pasir di tepi pantai. Namun, seketika, wajah si nenek menjadi takut dan kalut, ketika gelombang besar datang dan membawa si cucu ke tengah laut. Nenek ini memohon, “Ya Tuhan, selamatkan cucuku satu-satunya. Aku mohon, bawa dia kembali.” Dan tak disangka, mujizat terjadi! Gelombang besar datang dan membawa si cucu kembali ke pantai, dengan utuh tanpa kurang sedikitpun. Setelah mengecek kondisi si cucu, si nenek mendongak ke langit dan berseru: “Topinya mana??!!”

Hmm, siapa yang masih suka begitu? Susah bersyukur, bukan hanya di momen yang susah; tapi juga di momen yang indah, karena selalu saja ada yang kurang memuaskan di hati kita? Kalau kata pepatah, “Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.” Rasa-rasanya, jauh lebih mudah bagi kita untuk protes kepada TUHAN, karena Dia tidak memberikan apa yang kita mau; daripada bersyukur kepada-Nya, atas berkat pemeliharaan-Nya.

Akhirnya, pertanyaannya adalah: mana yang lebih duluan? Bersyukur dahulu, baru bahagia? Atau, bahagia dahulu, baru bersyukur? Alkitab mencatat di 1 Tesalonika 5:18, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Maka, meskipun bersyukur bukan hal yang mudah (karena natur dosa kita), tapi selalu ada yang namanya anugerah. Anugerah inilah yang akan terus mendorong kita untuk dapat belajar menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur! Selamat mensyukuri hidup sebagai anak-anak Tuhan Yesus!