Kepemimpinan yang Melayani

25
Oct

Kepemimpinan yang Melayani

Markus 35-45
Markus 10:43b-45- Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Di dalam sebuah kegiatan pengambilan suara untuk pemilihan seorang pemimpin suatu daerah, tidak jarang muncul tindakan penyelewengan. Sebagai contoh adalah adanya Politik Uang. Politik Uang adalah pemberian sejumlah dana kepada seseorang untuk mengendalikan hak suaranya untuk memilih calon tertentu atau untuk tidak memilih calon tertentu. Sehingga hasil dari pemungutan suara tidak murni dari keinginan para pemilih, namun sudah dipengaruhi oleh adanya pemberian uang tersebut. Politik Uang ingin dilakukan karena seseorang dengan segala cara ingin memenangkan pemilihan tersebut dan mendapatkan kedudukan tinggi sehingga ia menjadi orang yang berpengaruh.

Memiliki kekuasaan adalah salah satu godaan besar bagi sifat manusia yang telah tercemar oleh dosa. Diawali dengan keinginan untuk selalu menjadi lebih baik dari orang lain, dan akhirnya ingin menjadi orang yang berpengaruh atau mengendalikan hal-hal sekelilingnya sesuai keinginan hatinya.

Melalui Firman Tuhan hari ini kita kembali diingatkan oleh pengajaran Kristus. Di saat ada murid-murid-Nya yang berlomba untuk mendapatkan kemuliaan, Kristus justru menngingatkan untuk memiliki sikap sebagai seorang pelayan. Sebagai murid Kristus harus memiliki pemikiran yang berbeda dengan dunia ini. Jika di dunia ini kekuasaan dilakukan dengan wewenang, tapi sebagai murid Kristus, seorang pemimpin justru harus menjadi hamba melayani orang lain.

Tuhan memberikan potensi bagi setiap orang percaya untuk menjadi pemimpin-pemimpin rohani berapapun jumlah jiwa yang Tuhan percayakan. Akan tetapi marilah kita menyadari bahwa kepemimpinan yang Tuhan percayakan adalah kesempatan bagi kita untuk melayani orang lain. Sebagai pemimpin kita bertanggung-jawab untuk berusaha memahami kepentingan orang yang kita pimpin.

Dalam mengemban tugas ini jelas ada pengorbanan yang diberikan. Ini berarti kita perlu mengesampingkan keinginan diri kita sendiri. Hal ini seperti yang diteladankan oleh Kristus. Kristus turun dari sorga yang penuh kemuliaan untuk berada di tengah manusia yang telah tercemar dosa. Bahkan Ia lahir di tempat yang tidak layak yaitu di kandang yang hina. Selama menjadi manusia, Yesus hanya melakukan pelayanan. Dia tidak menuntut hak-Nya untuk dilayani. Ia tidak merasa kesetaraan dengan Allah adalah patut diperjuangkan (Filipi 2:5-7). Bahkan Dia berkorban memberikan segalanya, menerima rasa sakit, menderita dan mati untuk memberikan Jalan Keselamatan bagi umat manusia. Sehingga Tuhan meninggikan Dia. Hanya melalui Kristus, manusia dapat datang kepada Bapa. Tidak ada nama lain yang olehnya manusia mendapat keselamatan (Kisah 4:12).

Marilah kita sebagai murid Kristus kita senantiasa memiliki kerendahan hati. Kita tidak berambisi untuk menjadi yang tertinggi, atau menuntut untuk dilayani. Akan tetapi marilah kita hanya berfokus untuk melayani saudara-saudara ktia. Kita mau memberikan waktu untuk saling memahami kebutuhan satu sama lain. Dengan demikian hidup kita semakin serupa Krsitus dan Tuhan akan memakai kita untuk makin memperluas pekerjaan Tuhan. Amin.